Minggu, 07 Desember 2008

Motivasi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.

Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai. mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai ? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.

Apakah Psikologi Olahraga?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.

Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.

Mengapa Psikologi Olahraga Diperlukan dalam Olahraga?

Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang, denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.

Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.

Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan "psikotes", dengan bantuan psikometri.

Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepribadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis (diuraikan kemudian) yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut

Penampilan seorang atlet tidak bisa dilepaskan dari daya dorong yang dia miliki. Sederhananya, semakin besar daya dorong yang dimiliki, maka penampilan akan semakin optimal, tentu saja jika ditunjang dengan kemampuan teknis dan kemampuan fisik yang memadai. Daya dorong itulah yang biasa disebut dengan motivasi. Menurut Hodgetts dan Richard (2002) motif adalah sesuatu yang berfungsi untuk meningkatkan dan mempertahankan serta menentukan arah dari perilaku seseorang. Sedang motivasi adalah motif yang tampak dalam perilaku. Motiflah yang memberi dorongan seseorang dalam melakukan suatu aktivitas. Hampir semua aktivitas manusia didorong oleh motif-motif tertentu yang bersifat sangat individualis.

Secara garis besar, ada dua jenis motivasi jika dilihat dari arah datangnya: yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang datang dari dalam diri individu. Sebagai contoh keinginan untuk mendapat poin sempurna dalam sebuah kejuaraan senam, atau keinginan untuk menyelesaikan sebuah handicap dalam olahraga motocross. Motivasi yang datang dari dalam diri individu tanpa campur tangan faktor luar inilah yang biasa disebut sebagai motivasi intrinsik.

Motivasi ekstrinsik biasa didefinisikan sebagai motivasi yang datang dari luar individu. Keinginan mendapat penghargaan, uang, trophi dan sebagainya merupakan contoh-contoh motivasi yang berasal dari luar individu. Secara umum, motivasi ekstrinsik lebih sering berbentuk kebendaan atau juga pujian

Meskipun berbeda, kedua jenis motivasi ini sesungguhnya saling berkait satu sama lain dan bentuknya yang saling berubah-ubah. Motivasi intrinsik bisa muncul akibat adanya penghargaan yang menjadi iming-iming pun demikian dengan sebaliknya. Motivasi ekstrinsik adalah kelanjutan dari adanya motivasi intrinsik yang mengawali seseorang melakukan sebuah aktivitas.

Memang banyak ahli yang mengatakan bahwa motivasi intrinsiklah yang sebenarnya diperlukan oleh seorang atlet dalam setiap penampilannya. Karena motivasi intrinsik lebih bersifat tahan lama dibanding motivasi ekstrinsik. Mudahnya, motivasi ekstrinsik akan hilang seiring dengan hilangnya hadiah, reward, atau uang yang diinginkan, tapi tidak demikian jika yang dimiliki adalah motivasi intriksik. Namun sekali lagi, kedua jenis motivasi ini saling bertumpuk dan mempengaruhi satu sama lain.

Olahraga yang berorientasi pada prestasi merupakan salah satu aktivitas yang disadari. Selalu ada tujuan yang ingin dicapai oleh seorang atlet saat mereka melakukan aktivitasnya. Dalam suatu kejuaraan, tentu saja prestasi tertinggi yang ingin dicapai oleh seorang atlet. Namun, tak jarang juga, seorang atlet tampil hanya karena desakan dari pihak-pihak luar yang menginginkannya menjadi seorang juara.

Motivasi tidak bersifat permanen. Ada banyak hal yang bisa dengan mudah menghilangkan atau memunculkan motivasi seorang atlet. Mengambil contoh Piala Asia 2007, para pemain Indonesia seperti mendapat suntikan motivasi yang luar biasa saat puluhan ribu penonton menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia. Namun, saat Piala Dunia 1998, Timnas Nigeria yang waktu itu diharapkan menjadi kuda hitam, tiba-tiba melempem akibat gaji yang belum dibayarkan oleh federasi sepakbola negaranya.

Contoh di atas merupakan ilustrasi yang sahih tentang bagaimana rapuhnya motivasi yang dimiliki oleh seseorang. Satu ketika bisa menjadi sangat besar, tapi disaat yang lain tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Untuk itulah diperlukan suatu metode yang berlangsung terus menerus agar motivasi atlet tetap terjaga.
Pendampingan Berkelanjutan

Dalam olahraga prestasi, yang tentu saja sudah menjadi sebuah industri tontonan, peran orang yang berperan sebagai penyuntik motivasi menjadi sangat penting. Tidak ayal, olahraga prestasi (dalam cabang apapun) membutuhkan penampilan yang konsisten dari seorang atlet. Penampilan konsisten ini termasuk juga mempunyai motivasi yang selalu tinggi.

Bisa dikatakan, orang-orang terdekat atlet adalah orang-orang yang berpotensi besar menjadi penyuntik motivasi. Baik orang tua, saudara, teman, terlebih pelatih. Seorang pelatih harus memahami benar karakter atlet binaannya. Syarat tersebut mutlak, karena pelatihlah yang mengetahui secara mendalam kemampuan terbaik dari seorang atlet.

Pelatih olahraga saat ini tidak cukup hanya membekali dirinya dengan kemampuan melatih teknik, tapi juga harus mengauasai ilmu psikologi sebagai bekal untuk mendampingin atlet dalam menjaga kondisi mentalnya. Banyak pelatih yang dikatakan sukses juga merupakan seorang motivator ulung.

Namun, dewasa ini peran pelatih yang terlalu besar terkadang tidak lagi mampu mengkafer segala sesuatu yang terjadi pada atletnya. Disaat itulah dibutuhkan seorang "pembantu" pelatih yang secara spesifik mengurusi perkembangan emosi atletnya. Biasanya "pembantu" ini adalah seorang motivator atau lebih luasnya adalah seorang psikolog olahraga yang bekerja sama secara penuh dengan pelatih kepala.

Suntikan Lewat Latihan

Pada umumnya, suntikan motivasi pemain atau atlet masih berbentuk oral atau diucapkan, seperti kata-kata pujian atau semacamnya. Namun, mengikuti perkembangan metode kepalatihan dewasa ini, suntikan motivasi bisa diwujudkan dalam proses latihan teknis yang dilalui. Sebagai contoh, dalam sesi latihan sepakbola untuk usia muda, latihan bisa diset dengan menghadirkan kompetisi internal antar pemain.

Dalam latihan passing, misalnya, pola latihan tidak hanya berhadap-hadapan dua orang pemain. Tapi bisa menghadirkan gawang kecil sebagai salah satu pemancing munculnya kompetisi. Seorang pemain harus mengumpan masuk melalui gawang kecil tersebut, dan yang paling banyak masuk akan mendapat reward tertentu. Sekali lagi, pelatih harus jeli dan cermat dalam membuat pola latihan ini.

Selain untuk memicu motivasi dalam latihan, pola latihan seperti di atas bisa memudahkan pelatih dalam mengajarkan satu gerakan tertentu. Selain itu, diharapkan dengan penguasaan kemampuan teknik tertentu, pemain akan lebih percaya diri ketika menghadapi pertandingan sesungguhnya.

Pola lain dalam menyuntik motivasi adalah dengan membakar secara verbal. Namun harus diingat, memotivasi dengan menggunakan cara-cara verbal ini harus benar-benar memperhatikan kondisi dasar kepribadian pemain. Kita tidak bisa menggunakan metode crash talk atau mengatakan dengan cara meledak-ledak dan langsung jika yang dihadapi pemain-pemain yang mempunyai tipe kepribadian yang cenderung introvert. Sebaliknya, bisa digunakan sandwich talk dengan terlebih dulu memberi pujian di awal baru "membakar" di tengah dan diakhiri dengan pujian-pujian lagi

Sebenarnya ada banyak metode dan cara dalam memotivasi seorang atlet. Tapi pada prinsipnya, hal pertama yang harus dikuasai adalah ilmu psikologi supaya terlebih dahulu bisa memetakan kondisi atletnya. Cara memotivasi yang salah hanya akan menjadi bumerang yang tidak jarang justru melemahkan motivasi atlet.

BAB II

PEMBAHASAN

Manusia adalah makhluk berkembang, mahluk yang aktif. Tindakan atau perbuatan manusia selain ditentukan oleh faktor-faktor yang datang dari luar, juga ditentukan oleh faktor yang datang dari dalam diri sendiri. Motif berasal dari bahasa latin “movere”, yang berarti mengerakan atau mendorong untuk bergerak. Dari sini motif diartikan sebagai pendorong atau pengerak dalam diri manusia yang diarahkan ketujuan tertentu.

Dalam pembinaan pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia akhir-akhir ini makin dirasakan tantangan yang berat terutama untuk menampilkan prestasi yang mengungguli atau setidak-tidaknya menyamai prestasi beberapa Negara ASIA yang berciri fisik sama dengan Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar seyogyanya mampu mengorbitkan atlet-atlet yang berprestasi.

Dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga, tidak ada atlet yang dapat menang atau menunjukan prestasi yang optimal tanpa motivasi (Aldeman, 1974). Straub (1987) menyatakan bahwa prestasi adalah sama dengan keterampilan plus motivasi. Meskipun atlet atau tim mempunyai keterampilan yang baik, tetapi tidak ada hasrat untuk bermain baik, biasanya mengalami kekalahan. Demikian pula atlet atau tim yang mempunyai hasrat tinggi tetapi tidak mempunyai keterampilan, maka prestasi tetap buruk. Hasil optimal hanya dapat dicapai kalau motivasi dan keterampilanb saling melengkapi. Pernyataan Straub ini, menunjukan bahwa motivasi sebagai aspek dan proses psikologi berhubungan erat dengan keterampilan, perlu ditumbuhkan dan dibina dalam pencapaian prestasi atlet yang optimal.

2.1 Definisi motivasi menurut pendapat para ahli psikologi:

A. David Krech (1962)

Menyatakan bahwa motivasi adalah kesatuan keingian dan tujuan yang menjadi pendorong untuk bertingkah laku dinyatakan bahwa studi tentang motivasi adalah studi yang mempelajari dua pertanyaan yang berbeda atas tingkahlaku individu yakni, mengapa individu memilih tingkahlaku tertentu dan menolak tingkah laku yang lainnya.

B. Barelson dan Steiner dalam O. Koontz (1980)

Motivasi adalah kekuatan dari dalam yang menggerakkan dan mengarahkan atau membawa tinkahlaku Ke tujuan. Pada hakikatnya, rumusan ini,bila diteliti dengan cermat,merupakan terminologi umum yang mencakup arti daya dorong, keinginan,kebutuhan dan kemauan. Hubungan antara kebutuhan,keinginan dan kepuasan digambarkan sebagai mata rantai yang disebut Need – want – satisfaction chain

C. E.J Muray (1964 )

Motivasi adalah faktor internal yang menggairahkan, mengarahkan dan mengintegrasikan tingkahlaku seseorang.

D. M.L Kamlesh (1983)

Motivasi adalah kecenderungan yang mengarahkan dan memilih tingkah laku yang terkendali sesuai kondisi, dan kecenderungan mempertahankannya sampai tujuan tercapai.

E. Robert.N. Singer (1986)

Motivasi adalah sebagai dorongan untuk mencapai tujuan, dorongan dari dalam terhadap aktifitas yang bertujuan. Menurut singer motivasi itu terbagi antara dua yaitu, dorongan (drive) fisik, dan motif sosial. Dorongan fisik adalah kecenderungan bertingkah laku kearah pemuasan kebutuhan biologis. Motif sosial itu kompleks, muncul dan berkembang dari sumber – sumber sosia, seperti hubungan antar manusia. Dorongan fisik tidak dapat dipelajari, sedangkan motif sosial dapat.

F. W.S. Winkel (1983), Wahjosumidjo (1985), Kamlesh (1983).

Motivasi terbagi atas dua bentuk, yakni motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Matovasi ekstrinsik itu bentuk motivasi yang di timbulkan oleh berbagai sumber dari luar seperti pemberian hadiah, penghargaan, sertfikat dan sebagainya. Motivasi intrinsik itu adalah dorongan alamiah yang mendorong seseorang mengerjakan sesuatu dan bukan kerena situasi buatan.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa : ”motivasi olahraga” adalah keseluruhan daya penggerak (motif – motif) didalam diri individu yang menimbulkan kegiatan berolahraga, menjamin kelangsungan latihan dan memberi arah pada kegiatan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

Olahraga digemari anak – anak, pemuda dan para orang tua karena memiliki daya tarik untuk mengembangkan berbagain kemampuan, menumbuhkan harapan – harapan, memberikan pengalaman yang membanggakan, meningkatkan kesehatan jasmani, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis dalam kehidupan sehari – hari dan sebagainya.

Melalui olahraga para pemuda mendaptakan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan, mendapatkan pengakuan dan popularitas, menemukan teman – teman baru serta pengalaman bepergian dan bertanding yang mendatangkan kegembiraan dan kepuasan. Olahraga merupakan aktivitas yang unik, dimana sermua memerlukan hubungan yang harmonis dan ideal antara proses berfikir, emosi dan gerakan.

Kompetisi menimbulkan keadaan penuh stres dan dapat menimbulkan kecemasan atau anxiety, serta tantangan untuk mengatasi berbagai perasaan, dengan berolahraga timbul bermacam – macam dorongan untuk bertindak sebaik – baiknya yang merupakan sebagian dorongan untuk mengembangkan diri sendiri atau ”self – improvement”.

2.2 Berbagai Motivasi Berolahraga

Motivasi berolahraga bervariasi antara individu yang satu dengan lain karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan, baik disebabkan karena perbedaan tingkat perkembangan umurnya, minat, pekerjaan, dan kebutuhan – kebutuhan lainnya.

Motivasi berolahraga bagi anak – anak, remaja, dan para orang tua yang tidak mempersiapkan diri untuk pertandingan antara lain :

1) Untuk dapat bersenang – senang dan mendapat kegembiraan

2) Untuk melepaskan ketegangan psikis

3) Untuk mendapatkan pengalaman esthetis

4) Dapat berhubungan dengan orang lain (mencari teman)

5) Untuk kepentingan kebanggaan kelompok

6) Untuk memelihara kesehatan badan

7) Untuk keperluan kebutuhan praktis sesuai pekerjaannya.

Menurut Singer (1984) meskipun anak – anak yang satu bebeda dengan anak – anak yang lain, namun Michael Passer, seorang psikolog olahraga dikalangan pemuda atas hasil penelitiannya adalah menunjukkan adanya indikasi enam kategori utama motif – motif yang menumbuhkan minat anak – anak berpartisipasi dalam program – program olah raga yaitu :

1) Untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan.

2) Untuk berhubungan dan mencari teman.

3) Untuk mencapai sukses dan mendapat pengakuan.

4) Untuk latihan dan menjadi sehan dan bugar.

5) Untuk menyalurkan enersi.

6) Untuk mendapatkan pengalaman penuh tantangan dan yang mengembirakan.

Lebih lanjut Singer menegaskan bahwa motivasilah yang mendorong seseorang mencapai tujuan, dan selalu berusaha melakukan sesuatu dengan sebaik – baiknya. Beberapa pendekatan yang dilakukan para orang tua dan pelatih terhadap atlit, oleh singer dikelompokkan dalam bentuk – bentuk

1) Pemberian penghargaan

2) Hukuman – hukuman

3) Ancaman – ancaman

4) Pengakuan.

Pendapat singer ini merupakan upaya untuk mengembangkan prosedur atau cara – cara : “reward – punishment” yaitu cara – cara dengan memberi penghargaan dan menghukum yang biasa dilakukan dalam bidang pendidikan. Untuk menimbulkan motivasi dan juga memelihara motivasi, dimana pengaruh – pengaruh dapat datang dari berbagai pihak, dan bukan hanyan dari orang tua dan pelatih saja, maka pendapat singer tersebut patut diperhatikan dalam upaya menimbulkan dan memelihara motivasi atlet.

2.3 Teori Motivasi

Ada beberapa teori motivasi yang cukup menarik untuk dibicarakan, yakni, Teori hedonismo, Teori Naluri. Teori Kebudayaan dan Teori Kebutuhan.

  1. Teori Hedonisme

Teori ini mengatakan bahwa pada hakekatnya manusia akan memilih aktivitas yang menyebabkannya merasa gembira dan senang. Begitu pula dalam olahraga, orang hanya akan memilih aktivitas yang menarik dan menguntungkan dirinya dan akan mengesampingkan yang tidak menarik. Oleh sebab itu, pelatih harus mempersiapkan dan membantu setiap atlet untuk memperbesar apa yang memberi nilai tambah yang dicarinya pada saat itu dan memperkecil apa saja yang dapat menumbuhkan ketidaksenangan dalam aktivitas itu.

  1. Teori Naluri

Teori ini menghubungkan kelakuan manusia dengan macam-macam naluri, seperti naluri mempertahankan diri, mangembangkan diri dan mengembangkan jenis. Kebiasaan, tindakan dan tingkahlakunya digerakkan oleh naluri tersebut. Untuk itu guru, pelatih dan pembina dalam proses belajar atau latihan perlu memperhatikan naluri – naluri individu, dan mendeteksi naluri yang dominan pada setiap individu.

  1. Teori Kebudayaan

Teori ini menghubungkan tingkahlaku manusia berdasarkan pola kebudayaan tempat ia berada. Bertolak dari teori ini, maka para pelatih dan pembina perlu mengetahui latarbelakang kehidupan dan kebudayaan setiap atlet, agar kegiatan olahraga yang dilaksanakannya tidak dirasakan baru atau asing, melainkan sebagai bagian hidup dan pola kebudayaanya.

  1. Teori kebutuhan

Teori ini beranggapan bahwa tingkahlaku manusia pada hakekatnya bertujuan memenuhi Kebutuhannya. Sehubungan dengan pandangan ini, maka pelatih atau pembina hendaknya dapat mendeteksi kebutuhan yang domina setiap individu.

Walalupun ada bermacam-macam pendapat mengenai motif, Namun motif itu sendiri tidak lepas dari kebutuhan-kebutuhan diri setiap individu. Teori kebutuhan ini banyak divas dan diterapkan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kepemimpinan, administrasi, dan ekonomi.

Kebutuhan fisiologis atau psikologis seseorang menimbulkan dorongan intrinsik atau ekstrinsik untuk bertingkahlaku dalam mencapai tujuan tersebut. Kuatnya dorongan ini ditentukan oleh kadar kebutuhan yang melekat pada seseorang. Kalau tujuan tercapai, ia bisa mengalami frustasi.

Salah satu ahli psikologi yang merumuskan kebutuhan manusia adalah Abraham Maslow, dengan teori Pemenuhan Kebutuhan ( Satisfaction of need Theory ). Abharam Maslow menyusun tingkat kebutuhan manusia didasarkan atas prinsip bahwa :

  1. Kebutuhan manusia diorganisasikan dalam kebutuhan yang bertingkat-tingkat ;
  2. Segera setelah salah satu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan lain akan muncul dan berkuasa ;
  3. Setelah terpenuhi, kebutuhan tersebut tidak mempunyai pengaruh dominan; akibatnya, kebutuhan lain mulai meningkat dan mendominasi.

Maslow membagi kebutuhan manusia pada lima tingkat :

  1. Kebutuhan mempertahankan hidup ( Psychological Needs ). Manifestasi kebutuhan ini nampak

pada kebutuhan primer seperti ; makanan, air, seks, istirahat, senam.

  1. Kebutuhan rasa aman ( Safety Needs )

Manifestasi kebutuhan ini nampak pada kebutuhan keamanan, kestabilan hidup, perlindungan/pembelaan, tata tertib, keteraturan, bebas dari rasa takut dan gelisah.

  1. Kebutuhan Sosial ( Social Needs )

Manifestasi kebutuhan ini antara lain nampak pada perasaan siterima oleh orang lain ( sense of belonging ), kebutuhan untuk mencapai sesuatu ( sense of achievement ), serta berpartisipasi ( sense of participation ).

  1. Kebutuhan akan penghargaan / harga diri ( Esteem Needs ).

Kebutuhan ini antara lain kebutuhan akan prestise, kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk dihormati. Makin tinggi status semakin tinggi prestisenya, semakin tinggi pula rasa untuk dihormati. Manefestasinya didalam olahraga ialah makin tinggi prestasi, makin giat berlatih, makin tinggi pula perasaan untuk diperhatikan dan dihargai.

  1. Kebutuhan aktualisasi siri ( Self Actualization ).

Manifestasinya nampak pada keinginan untuk mengembankan kapasitas fisik, kapasitas mental melalui latihan dan pendidikan. Keinginan untuk mengabdi dan berbuat sebaik-baiknya, memunculkan diri secara bebas.

Sistem kebutuhan ini merupakan susunan hirarkis, mulai dari yang paling rendah ( fisiologi ) sampai pada yang paling tinggi ( aktualisasi diri ). Kebutuhan setiap orang mulai bergerak dari tingkat rendah ( fisiologis ) karena kebutuhan itu paling diperlukan. Pada mulanya kebutuhan fisiologis mendominasi tingkahlaku individu. Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, kebutuhan sosial muncul. Pada saat kebutuhan sosial tidak lagi mendesak, lalu kebutuhan menggeser ke pengakuan, penghargaan, dan seterusnya sampai pada tingakat kebutuhan aktualisasi diri.

2.4 Motivasi Intrinsik dan Ekstrisik

Pengalaman nyata di negara-negara berkembang pada umumnya, seperti juga di Indonesia, adalah bila atletnya mengalami kegagalan pada suatu turnamen, maka kelemahan teknik dan taktik dituding sebagai sebab utama. Di negara-negara yang sudah maju prestasi olahraganya, kurangnya motivasi dituding sebagai penyebab utama. Anggapan yang berbeda ini sebenarnya disebabkan kelemahan teknik masih menonjol di negara-negara berkembang, sedangkan kempuan teknik dan fisik bukan masalah di negara-negara maju, sehingga motifasi merupakan kunci yang mentukan keberhasilan penampilannya yang prima.

Peranan motivasi terhadap prestasi olahraga banyak dibicarakan dan diperhatikan oleh ahli-ahli psikologi olahraga. Menurut Singgih Gunarsa, prestasi seseorang dihasilkan dari motivasi ditambah latihan. Straub menyatakan bahwa prestasi seseorang adalah motivasi ditambah ketrampilan. Sedangkan menurut R.N Singer, prestasi dalam olahraga itu sama dengan keterampilan yang diperoleh melalui motivisi yang menyebabkan atlet bertahan dalam latihan, ditambah dengan motivasi yang menyebabkan atlet bergairah berlatih keras. Memang tidak dapat disangkal bahwa motivasi tidak dapat dipisahkan dengan keberhasilan atlet dalam aktifitas olahraga.

Motivasi olahraga dapat dibagi atas motivasi primer dan sekunder, dapat pula atas motivasi biologis dan sosial. Namun banyak ahli membagikannya atas dua jenis, intrinsik dan ekstrinsik.

1. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam yang menyebabkan individu berpartisipasi. Dorongan ini sering dikatakan dibawa sejak lahir, sehingga tidak dapat dipelajari. Atlit yang punya motivasi intrinsik akan mengikuti latihan peningkatan kemampuan atau ketrampilan, atau mengikuti pertandingan, bukan karena situasi buatan (dorongan dari luar), melainkan karena kepuasan dalam dirinya. Bagi atlit tersebut, kepuasan diri diperoleh lewat prestasi yang tinggi bukan lewat pemberian hadiah, pujian atau penghargaan lainnya. Atlit ini biasanya tekun, bekerja keras, teratur dan disiplin dalam menjalani latihan serta tidak menggantungkan dirinya pada orang lain.

Pada umumnya kemenangan yang diperoleh dalam kompetisi merupakan kepuasan dan selalu dievaluasi guna lebih ditingkatkan, dan kekalahan akan diterima tanpa kekecewaan melainkan akan menjadi sumber analisa terhadap kekuatan lawan dan kelemahan diri sendiri guna diperbaiki melalui latihan-latihan yang keras. Biasanya atlit ini mempunyai kepribadian yang matang, sportif, tekun, percaya diri, disiplin dan kreatif.

2. Motivasi Ekstrisik

Motivasi ekstrisik adalah dorongan yang berasal dari luar diri individu yang menyebabkan individu beradaptasi dalam olahraga. Dorongan ini barasal dari pelatih, guru, orngtua, bangsa atau berupa hadiah, sertifikat, penghargaan atau uang. Motivasi ekstrinsik itu dapat dipelajari dan tergantung pada besarnya nilai penguat itu dari waktu ke waktu. Ini dapat karena mempertaruhkan nama bangsa dan negara, karena hadiah besar, karena publikasi lewat media massa. Dorongan yang demikian ini biasanya tidak bertahan lama. Perubahan nilai hadiah, tiadanya hadiah akan menurunkan semangat dan gairah berlatih. Kurangnya kompetisi menyebabkan latihan kurang tekun, sehingga prestasinya merosot.

Motivasi ekstrinsik dalam olahraga meliputi juga motivasi kompetitif, karena motif untuk bersaing memegang peranan yang lebih besar daripada kepuasan karena telah berprestasi baik. Kemenangan merupakan satu-satunya tujuan, sehingga dapat timbul kecenderungan untuk berbuat kurang sportif atau kurang jujur seperti licik dan curang. Atlet-atlet yang bermotifasi ektrinsik, sering tidak menghargai orang lain, lawannya, atau peraturan pertandingan. Agar dapat menang, maka ia cenderung berbuat hal-hal yang merugikan, seperti memakai obat perangsang, mudah dibeli atau disuap.

Beberapa ahli mengemukakan bahwa dalam aktifitas olahraga, motivasi intrinsik maupun ekstrisik tidak akan berdiri sendiri, melainkan bersama-sama menuntun tingkah laku individu. Mereka berdasarkan pandangannya bahwa tingkahlaku motivasi intrinsik itu didrong oleh kebutuhan kompetisi dan keputusan sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan.

Manusia hidup dengan lingkungannya dan bertingkah laku dengan lingkunganya. Itulah sebabnya pengaruh lingkungan tidak akan terlepas dari kehidupan manusia. Motivasi ekstrisik (pengaruh lingkungan) selalu menuntun tingkah laku manusia. Dengan demikian tingkah laku individu dalam olahraga dipengaruhi oleh motifasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik

Peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat kita lihat dalam pertandingan. Dalam pertandingan atlet atau tim akan bermain dilapangan yang baru, menghadapi penonton yang banyak. Sebelum dan selama pertandingan mereka selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari pelatih baik teknik, strategi maupun dorongan semangat, agar mereka dapat bermain sebaik mungkin dan memenangkan pertandingan. Situasi penonton, lapangan yang baru, petunjuk pelatih, menyebabkan tingkah laku mereka dalam kendali lingkungan. Artinya, motivasi ekstrinsik berfungsi. Dengan demikin dalam diri atlet atau tim berfungsi motivasi intrisik karena adanya kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan motivasi ekstrisik karena dipengaruhi keadaan dari luar.

Weine Halliwell (1978) menyatakan bahwa sebenarnya motivasi dasar tingkahlaku individu dalam olahraga adalah motivasi intrinsik, namun selalu ditambah dengan motivasi ekstrinsik. Dorongan ekstrinsik dapat meningkatkan motivasi intrinsik, kalau dorongan itu menambah kompetisi dan keputusan individu, dan dapat menurunkan motivasi intrinsik, kalau dorongan itu mengurangi kompetisi dan keputusan diri individu. Dengan kata lain, kalau kontrol (aspek lingkungan) lebih menonjol, maka penguatan yang diberikan akan menurunkan motivasi intrinsik. Tetapi jika informasi lebih menonjol dan positif terhadap kompotensi dan keputusan sendiri individu, maka motivasi intrinsik akan meningkat.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :

  • ”motivasi olahraga” adalah keseluruhan daya penggerak (motif – motif) didalam diri individu yang menimbulkan kegiatan berolahraga, menjamin kelangsungan latihan dan memberi arah pada kegiatan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Melalui olahraga para pemuda mendaptakan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan, mendapatkan pengakuan dan popularitas, menemukan teman – teman baru serta pengalaman bepergian dan bertanding yang mendatangkan kegembiraan dan kepuasan. Olahraga merupakan aktivitas yang unik, dimana sermua memerlukan hubungan yang harmonis dan ideal antara proses berfikir, emosi dan gerakan.

  • Peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat kita lihat dalam pertandingan. Dalam pertandingan atlet atau tim akan bermain dilapangan yang baru, menghadapi penonton yang banyak. Sebelum dan selama pertandingan mereka selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari pelatih baik teknik, strategi maupun dorongan semangat, agar mereka dapat bermain sebaik mungkin dan memenangkan pertandingan. Situasi penonton, lapangan yang baru, petunjuk pelatih, menyebabkan tingkah laku mereka dalam kendali lingkungan. Artinya, motivasi ekstrinsik berfungsi. Dengan demikin dalam diri atlet atau tim berfungsi motivasi intrisik karena adanya kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan motivasi ekstrisik karena dipengaruhi keadaan dari luar.

3.2 Saran

Dari uraian kesimpulan diatas,maka penulis memberikan saran semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi setiap pembaca dalam proses pembelajaran ataupun penambahan wawasan dalam ilmu pengetahuan. Umumnya dibidang psikologi dan khususnya dalam materi motifasi dalam olahraga.


Tugas Mahasiswa Psikologi

“STRESS, KECEMASAN DAN FRUSTASI”

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Boleh dikata setiap atlet atau pemanin ingin mencapai yang terbaik dan berusaha mendapatkan apa yang terbaik berdasarkan kemampuan-kemampuannya sendiri. Setiap atlet memiliki sumber daya untuk mencapai suatu prestasi. Sumber daya tersebut terwujud dalam potensi jasmaniah-rohaniah. Potensi ini sangat menentukan dalam pencapaian prestasi. Disamping itu terdapat faktor lain diluar diri atlet yang juga dapat mempengaruhi prestasi, misalnya cuaca (temperatur), tempat pertandingan, alat-alat dan sebagainya.

Dalam mempersiapkan atlet atau pemain menghadapi pertandingan, arah pembenahan adalah penigkatkan faktor fisik yang mencakup kondisi fisiologis, teknis dan psikis. Dengan kata lain, seorang atlet harus dibekali keterampilan motorik (motorskill), kondisi fisiologis serta kesiapan aspek psikologis yang maksimal.

Kesiapan aspek psikologis atlet akhir-akhir ini banyak memperoleh perhatian dalam program pembinaan. Seperti diatas kondisi psikologis dibedakan atas 2 macam yaitu yang menunjang dan yang menganggu penampilan atau prestasi.

Kondisi psikologis yang menunjang untuk berprestasi diantaranya:

1. Motivasi tinggi

2. Aspirasi kuat

3. Ketahanan mental

4. Kematangan kpribadian

Sedangkan kondisi psikologis yang dapat mengganggu penampilan atau prestasi diantaranya :

1. Ketegangan / kecemasan

2. Motivasi rendah

3. Obsesi

4. Gangguan emosional

5. Keraguan / takut

Berikut ini disajikan pembahasan tentang salah satu kondisi psikologis yang menggangu penampilan seorang atlet yaitu stress, ketegangan dan frustasi.

1.2 Tujuan

Dari latar belakang diatas maka kami merumuskan tujuan yaitu sebagai berikut:

1. Menyajikan pembahasan singkat tentang pengaruh aspek psikologis terhadap penampilan atau prestasi seseorang dalam melaksanakan tugasnya, dalam hal ini pemain atau atlet waktu menghadapi dan melaksanakan suatu pertandingan.

2. Mencoba membahas hal-hal yang berkaitan dengan ketegangan (stress, kecemasan dan frustasi) dalam berolahraga.

3. Memberikan solusi tentang bagaimana cara menanggulangi stress, kecemasan dan frustasi.

1.3 Manfaat

Adapun manfaat yang dapat kami ambil dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :

1. Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Psikologi Olahraga.

2. Sebagai media menambah pengetahuan kami selaku penulis tentang pskologi olahraga khususnya mengenai keadaan emosional seseorang / atlet.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

2.1.1 Stress

Berbagai defenisi mengenai Stress telah dikemukakan oleh para ahli dengan versinya masing-masing, walaupun pada dasarnya antara satu defenisi dengan defenisi lainnya terdapat inti persamaannya. Selye (1976) mendefinisikan Stress sebagai “the nonspesific response of the body to any demand”, sedangkan Lazarus (1976) mendefinisikan “stress occurs where there are demands on the person which tax or exceed his adjustive resources” (Golberger & Breznitz, 1982, hal. 39). Dari kedua defenisi diatas tampak bahwa Stress lebih dianggap sebagai respon individu terhadap tuntutan yang dihadapinya. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan fisiologis dan tuntutan eksternal yang muncul dalam bentuk fisik dan social. Hans Selye (1950) juga menambahkan bahwa tidak ada aspek tunggal dari stimulus lingkungan yang dapat mengakibatkan stress, tetapi semua itu tergabung dalam suatu susunan total yang mengancam keseimbangan (homeostatis) individu. Hans Selye (1950) mengembangkan konsep yang dikenal dengan Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrome) yang menjelaskan bila seseorang pertama kali mengalami kondisi yang mengancamnya, maka mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) pada tubuh diaktifkan.

Kelenjar-kelenjar tubuh memproduksi sejumlah adrenalin cortisone dan hormon-hormon lainnya serta mengkoordinasikan perubahan-perubahan pada sistem saraf pusat. Jika tuntutan-tuntutan berlangsung terus, mekanisme pertahanan diri berangsur-angsur akan melemah, sehingga organ tubuh tidak dapat beroperasi secara adekuat. Jika reaksi-reaksi tubuh kurang dapat berfungsi dengan baik, maka hal itu merupakan awal

munculnya penyakit “gangguan adaptasi”. Penyakit-penyakit tersebut muncul dalam bentuk maag, serangan jantung, tekanan darah tinggi, atau keluhan-keluhan psikosomatik lainnya.

Lazarus dan Launier (1978) mengemukakan tahapan-tahapan proses stress sebagai berikut :

Ø Stage of Alarm

Individu mengidendentifikasi suatu stimulus yang membahayakan. Hal ini akan meningkatkan kesiapsiagaan dan orientasinyapun terarah kepada stimulus tersebut.

Ø Stage of Appraisals

Individu mulai melakukan penilaian terhadap stimulus yang mengenainya. Penilaian ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman individu tersebut.

Ø Stage of Searching for a Coping Strategy

Konsep ‘coping’ diartikan sebagai usaha-usaha untuk mengelola tuntutan-tuntutan lingkungan dan tuntutan int internal serta mengelolah konflik antara berbagai tuntutan tersebut. Tingkat kekacauan yang dibangkitkan oleh satu stresor (sumber stress) akan menurun jika individu memiliki antisipasi tentang cara mengelola atau menghadapi stresor tersebut, yaitu dengan menerapkan strategi ‘coping’ yang tepat. Strategi yang akan digunakan ini dipengaruhi oleh pengalaman atau informasi yang dimiliki individu serta konteks situasi dimana stress tersebut berlangsung.

Ø Stage of The Stress Response

Pada tahap ini individu mengalami kekacauan emosional yang akut, seperti sedih, cemas, marah, dan panik. Mekanisme pertahanan diri yang digunakan menjadi tidak adekuat, fungsi-fungsi kognisi menjadi kurang terorganisasikan dengan baik, dan pola-pola neuroendokrin serta sistem syaraf otonom bekerja terlalu aktif. Reaksi-reaksi seperti ini timbul akibat adanya pengaktifan yang tidak adekuat dan reaksi-reaksi untuk menghadapi stress yang berkepanjangan. Dampak dari keadaan ini adalah bahwa individu mengalami disorganisasi dan kelelahan baik mental maupun fisik.

Disamping membagi stress kedalam tahap-tahap diatas, Lazarus juga membedakan istilah istilah harm-loss, threat, dan challenge. Harm-loss dan threat memiliki konotasi negatif. Keduanya dibedakan berdasarkan perspektif waktunya. Harm-loss digunakan untuk menerangkan stress yang timbul akibat antisipasi terhadap suatu situasi. Baik stress akibat harm-loss maupun threat pada umumnya akan dapat berupa gangguan fisiologis maupun gangguan psikologis. Di lain pihak, challenge (tantangan) berkonotasi positif. Artinya, stress yang dipicu oleh situasi-situasi yang dipersepsikan sebagai tantangan oleh individu tidak diubah menjadi strain. Dampaknya tehadap tingkah laku individu, misalnya tampilan kerjanya menjadi positif.

2.1.2 Kecemasan

Kecemasan adalah suatu rasa takut, tidak aman, tak berdaya tanpa sebab yang jelas. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulis dari lingkungan individu tersebut. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi-situasi yang dikhayalkan akan terjadi.

Perasaan cemas dapat terjadi pada atlet pada waktu menghadapi keadaan tertentu, misalnya dalam menghadapi kompetisi yang memakan waktu panjang dan atlet tersebut menglami kekalahan terus-menerus.

2.1.3 Frustasi

Fustasi timbul dikarenakan merasa gagal tidak dapat mencapai suatu yang diinginkan. Setiap atlet menginginkan kepuasan yaitu itu menang; dan apabila itu tidak terwujud, maka dapat menimbulkan frustasi.

Frustasi dapat terjadi pada atlet yang mempunyai sifat pesimis maupun pada atlet yang memiliki sifat optimis yang sangat tinggi. Atlet yang mempunyai sifat pesimis dapat dikatakan “kalah sebelum berperang” karena atlet yang memiliki sifat pesimis ini mudah terkena frustasi sehingga mengalami kegagalan sedikit saja, diangapnya sebagai kegagalan yang akan terjadi dialami seterusnya.

Sedangkan apabila atlet memiliki sifat optimis yang sangat tinggi (over confidence) maka akan sangat mudah mengalami frustasi. Kegagalan yang dialaminya akan membuat atlet tersebut kecewa serta kehilangan keseimbangan emosi.

2.2 Sumber-sumber Stress, Kecemasan dan Frustasi

Sumber-sumber stress, kecemasan dan frustasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:

2.2.1 Sumber Intrinsik

Sumber Stress, kecemasan dan frustasi dari dalam maksudnya semua hal ini berasal dari diri atlet itu sendiri, yaitu;

a. Atlet sangat mengandalkan kemampuan tekniknya.

Bila atlet hanya mengandalkan kemampuan tekniknya, atlet tersebut akan mengalami kesulitan sebawatu menghadapi situasi pertandingan yang kurang menguntungkan bagi dirnya, misalnya menghadapi lawan yang ulet dan cermat sehingga lawan itu mampu mengantisipasi setiap serangan yang akan ia lakukan. Akibatnya atlet tersebut akan merasa terpepet dan selanjutnya tidak mampu lagi menguasai situasi yang sedang dihadapinya.

b. Atlet merasa bermain baik sekali.

Bila perasaan ini menghinggapi atlet, maka akan menjadi pertanda mulai timbul sesuatu yang menekan pada dirinya. Perasaan ini memberikan beban mental pada dirinya. Demikian juga perasaan yang sebaiknya, yang seakan-akan atlet itu telah memvonis diri sendiri bahwa ia tidak akan mencapai sukses.

c. Adanya negative thinking karena dicemooh atau dimarahi.

Dicemooh atau dimarahi akan menimbulkan reaksi pada diri atlet. Reaksi yang menekan dan menimbulkan frustasi sehingga menggangu penampilan pelaksaan tugas.

d. Adanya pikiran puas diri.

Bila dalam diri atlet ada pikiran atau perasaan puas diri maka ia telah menanamkan benih-benih ketegangan dalam diri sendiri. Atlet akan dituntut oleh diri sendiri untuk mewujudkan suatu yang mungkin berada diluar kemampuannya. Bila demikian keadaannya, sebenarnya atlet itu telah menerima tekanan yang tidak disadari.

2.2.2 Sumber Ekstrisik

Sumber Stress, kecemasan dan frustasi dari dalam maksudnya semua hal ini berasal dari diri atlet itu sendiri, yaitu;

a. Rangsangan yang membingungkan.

Salah satu bentuk rangsangan yang membingunkan adalah komentar para official yang merasa berkompoten, baik atas koreksi, strategi atau tektik yang harus dilakukan maupun petunjuk yang lain kepada atlet. Menerima beberapa petunjuk dan perintah sekaligus akan membingungkan atlet.

b. Pengaruh massa.

Massa penonton terlebih yang masih asing, dapat mempengaruhi kestabilan mental atlet. Penonton juga memainkan peranan yang sangat berarti dalam suasana pertandingan. Salah satu cirri massa (penonton) adalah emosi yang labil. Begitu mereka mengalami kekecewaan, maka mereka akan menunjukan tindakan yang agresif berupa cemoohan terhadap atlet. Disamping pengaruh yang merugikan itu adapun pengaruh massa yang dapat membangkitkan semangat dan percaya diri, sehingga dalam situasi yang kritis atlet merasa seakan-akan mendapat “angin”, yang lalu berangsung-angsur ia mampu menguasai keadaan dan menunjukan penampilan yang lebih baik.

c. Saingan yang bukan tandingannya.

Pemain atau atlet yang mengetahui bahwa lawan yang akan dihadapi adalah pemain peringkat diatasnya atau lebih unggul daripada dirinya, maka dalam hati kecil atlet atau pemain tersebut telah timbul pengakuan akan ketidak mampuannya untuk menang. Situasi tersebut akan menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada diri sendiri. Setiap kali berbuat kesalahan, ia semakin menyalahkan diri sendiri.

d. Kehadiran/ketidak hadiran pelatih

Atlet yang mempunyai hubungan personal dengan pelatih akan mengharapkan kehadiran pelatih selama ia bertanding. Tidak hadirnya pelatih yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi penampilan bagi atlet tersebut. Hal ini disebabkan karena atlet merasa tidak ada orang yang dapat member dukungan pada saat-saat yang ia perlukan. Dengan support tersebut atlet akan merasa mampu menghadapi dan mengatasi situasi-situasi yang penting. Sebaliknya, ada atlet yang tidak senang akan kehadiran pelatih selama ia bertanding. Dalam hal ini pelatih harus cepat memahaminya, ahar tidak menimbulkan perasaan yang mengganggu pada diri atlet.

2.3 Dampak terhadap kemampuan individu

Dampak ketegangan bisa berupa fisik atau mental, sebab ketegangan merupakan rangsangan yang mengganggu keseimbangan organisme baik biologis ataupun psikologis (Stewart : 1976). Dalam keadaan seperti ini ada orang akan mencoba mengurangi ketegangan dengan meningkatkan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Pada dasarnya lingkungan merupakan sumber ketegangan yang paling besar, dan terhadap lingkungan itu kemampuan penyesuaian diri dan beraksi, yang berbeda-beda.

Dalam kegiatan olahraga terutama olaharaga kompetitif, atlet akan mengalami situasi lingkungan, yaitu arena pertandingan. Arena ini mempengaruhi mental atlet tersebut. Bila pengaruhnya menekan dan atlet itu tidak bisa menyesuaikan diri, maka keadaan ini akan menimbulkan stress, kecemasan dan frustasi. Hal ini tentunya akan dapat mempengaruhi pelaksanaan pertandingan serta berpengaruh pada penampilan dan prestasi atlet itu sendiri.

2.4 Cara Penanggulangan

Teknik-teknik untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi stress, kecemasan serta frustasi yaitu sebagai berikut:

1. Teknik Intervensi

a. Konsentrasi (Pemusatan perhatian)

Cara ini pertama-tama menyingkirkan aneka ragam pikiran yang mengganggu atlet dan hanya memusatkan seluruh perhatian dan pikiran pada tugas yang sedang dihadapi. Memang ada atlet yang mampu dengan cepat menghalau berbagai pikiran yang mengganggu perhatian dan konsentrasinya pada pertandingan yang sedang dihadapinya, namun tidak sedikit atlet yang begitu lama termakan oleh gangguan pikirannya.

b. Pengaturan pernapasan

Pada orang yang mengalami ketegangan atau kecemasan serta respirasi akan meninggi. Keadaan seperti ini dapat diatasi dengan pernapasan yang dalam dan pelan, sehingga irama pernapasan yang semula cepat atau meninggi secara berangsur-angsur melambat atau menurun. Mengatur pernapasan juga merupakan usaha penenangan diri.

c. Relaksasi otot secara progresif

Caranya adalah melakukan kontraksi otot secara penuh kemudian dikendurkan. Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang selama kurang lebih 60 menit. Bila otot-otot telah mencapai keadaan rileks yang sungguh-sungguh, maka keadaan ini akan mengurangi ketegangan emosional juga menurunkan tekanan darah serta denyut nadi. Karenanya pada saat-saat tengan, orang sedapat mungkin memusatkan perhatiannya pada relaksasi otot dengan cara seperti diatas (S. horn;1986)

2. Mencari sumber stress, kecemasan dan prustasi itu sendiri.

Disini peran pelatih besar sekali. Hubungan hati-kehati antara atlet dan pelatih akan memungkinkan pelatih mengorek apa yang sebenarnya sedang dialami oleh atlet. Demikian atlet juga akan dengan terbuka menceritakan apa yang sedang dialami.

3. Pembiasan/berlatih

Cara ini dimaksudkan untuk melatih atlet menghadapi situasi-situasi yang bisa timbul dalam pertandingan. Bentuk paltihan pembiasaan adalah dengan simulasi. Yaitu dalam latihan sengaja diabut situasi yang dapat menimbulkan ketengangan dalam batas-batas tertentu. Dengan cara ini atlet tidak lagi peka (sensitif) terhadap pengaruh lingkungan.

a. Berlatih dalam gedung dengan pentilasi yang kurang baik sehingga sirkulasi udara didalamnya sangat menggangu.

b. Berlatih dilapangan dengan kondisi yang berbeda-beda, misalnya; permukaan tidak rata, licin, terbuat dari bahan sintetis dan sebagainya.

c. Berlatih dengan berbagai alat yang berbeda kualitasnya, misalnya berbagai merek shuttlecock, bola volley, bola basket, bola tennis.

d. Berlatih dialam (daerah) dengan cuaca atau suhu yang berbeda-beda, misalnya; didataran dengan lapisan udara yang tipis atau didataran tinggi, didaerah dengan panas yang menyengat dan sebagainya.

e. Berlatih dalam rungan dengan sistem penerangan yang kurang memenuhi sarat.

4. Teknik-teknik khusus.

Penangan ketegangan dengan menggunakan teknik khusus itu lebih menekankan pada pendekatan individual, misalnya;

a. Melalui music yang menjadi kegemaran atlet yang sedang mengalami ketegangan atau kecemasan.

b. Menanamkan dan memperkuat keyakinan atlet bahwa persiapan yang mereka lakukan sudah mantap dan menyeluruh.

c. Menjauhkan atlet dari official yang pencemas.

d. Menjelaskan kepada atlet bahwa ketegangan/kecemasan dalam pertandingan adalah wajar. Bahkan dalam batas-batas tertentu hal itu memang diperlukan.

2.5 Stress, Kecemasan dan Frustasi dalam Pertandingan




Menurut scanlan (1984) dalam tulisnya yang berjudil: “kompetitif stress and the child atlet” yang dimuat dalam buku “psikologikal foundation of sport” mengemukakan bahwa “competitive stress” atau stress yang timbul dalam pertandingan merupakan reaksi emoasional yang negative pada anak apabila rasa harga dirinya menrasa terancam. Hal seperti ini terjadi apabila atlet yunior menganggap pertandingan sebagai tantangan yang berat untuk dapat sukses, mengingat kemampuan penampilannya, dan dalam keadaan seperti ini atlet lebih memikirkan akibat dari kekalahannya.

Stress selalu akan terjadi pada diri individu apabila sesuatu yang diharapkan mendapat tantangan sehingga kemungkinan tidak tercapainya harapan tersebut menghantui pemikirannya. Stress adalah suatu ketegangan emosional, yang akhrinya berpengaruh terhadap proses-proses psikologis maupun proses fisiologik.

Spielberger (1986) dalam tulisnya mengenal “stress & Anxiety in sport” dalam kumpulan karya ilmiah yang dihimpun oleh morgan berjudul “sport psychology” menegaskan bahwa stress menunjukan “psychological proses” yang kompleks, dan proses ini pada umumnya terjadi dalam situasi yang mengandung hal yang dapat merugikan, berbahaya, atau dapat menimbulkan frustasi (streesor).

“Stressor” menurut Spielberger (1986) menunjukan situasi-situasi atau stimuli yang secara objrktif ditandai dengan adanya tekanan fisik atau psikologi atau bahaya dalam suatu tingkat tertentu. Situasi penuh stress akan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dalam tingkat-tingkat yang berbeda dalam perkembangan manusia.

Reaksi yang berbeda akan muncul dalam menghadapi “stressor”, tergantung pada situasi tertentu yang diperkirakan mengandung ancaman. Ancaman juga berkaitan dengan persepsi dan penilaian individu terhadap situasi yang dihadapi sebagai hal yang dapat merugikan dan mengandung bahaya. Dalam hubungannya dengan aktifitas olahraga, khususnya kemungkinan terjadinya stress menghadapi pertandingan maka permasalahannya sangat banyak tergantung pada diri atlet yang bersangkutan.

Mengenai timbulnya stress, Gauron (1984) berkesimpulan:

1. “Because stress is an inevitable part of life, it can’t be a volded”.

2. “Since stress is inevitable individual must reduce it’s effect and cope through”.

3. “Chronic stress may have adverse effect you upon the body particularly if it isn’t thought to relax”

Mungkin sekali suatu situasi yang sama dapat dirasakan sebagai ancaman bagi seorang atlet, tetapi hanya merupakan tantangan bagi atlet lain, dan mungkin bahkan tidak berarti apa-apa bagi atlet lain. Jadi dari pengalaman-pengalaman mengenai ancaman, ada hubungannya dengan keadaan mental atlet yang bersangkutan.

Namun jikalau hal itu tidak dapat segera diatas dan malah semakin menggangu atlet itu sendiri maka apa yang dicemaskan akan menjadi nyata dan menyebabkan ia kehilangan keseimbangan emosi. Keadaan seseorang yang kehilangan keseimbangan emosi biasanya mengarah pada ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengatahui hahwa atlet tersebut sedang mengalami emosi. Namun demikan kadang-kadang ada atlet yang dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tersebut. Hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen (Carrson ; 1987) yang dikenal dengan Display rules. Menurut mereka adanya 3 rules yaitu Masking, modulation dan simulation.

Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau dapat menutupi emosi yang dialaminya. Emosi yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi kejasmaniannya. Misalnya seorang atlet yang sangat sedih dikarenakan kehilangan gelar yang semsetinya dapat dia raih. Kesediahan itu dapat diredam atau ditutupi, dan tidak ada gejala kejasmanian yang menyebabkan tampaknya rasa sedih tersebut. Pada modulasi (modulation) orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi hanya dapat mengurangi saja. Jadi misalnya karena sedih, ia menangis (gejala kejasmanian) tetapi tangisnya itu tidak begitu mencuat-cuat. Pada simulasi (simulation) orang tidak mengalami emosi, tatapi dia seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas maka kami menarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Olahraga adalah suatu kegiatan yang bukan saja bersifat jasmaniah, melainkan merupakan kegiatan sebagai suatu totalitas;

2. Dalam diri seorang atlet terdapat faktor-faktor psikologis yang mendukung atau menghambat penampilan atlet itu sendiri.

3. Stress, kecemasan dan frustasi merupakan keadaan yang selalu mencul kepermukaan ketika menghadapi even yang kopetitif.

4. Pelatih mempunyai peranan penting dalam menjaga kondisi psikologis atlet.

3.2 Saran

Dari pembahasan dan kesimpulan diatas maka kami memberikan saran yaitu sebagai berikut:

1. Mengingat semakin kerasnya even olahraga yang semakin kompetitif, setiap atlet harus dapat meningkatkan kemampuan teknik dengan dibarengi oleh bekal psikologis yang memadai.

2. Agar pembekalan psikologis itu efektif maka lingkungan yang ada di sekitas atlet harus dapat mendukung keberadaan atlet itu sendiri.

3. Untuk mengatasi stress, kecemasan dan frustasi, atlet harus dapat beradaptasi dengan lingkungan pertandingan itu sendiri, serta didukung oleh faktor-faktor penunjang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih dkk. 1987. Psikologi Olahraga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Nasution, Noehi dkk. 1992. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.

Payitno, Elida. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Depdikbud.

Sutyobroto, Sudibyo. 1989. Psikologi Olahraga. Jakarta: Copyright.

Wargito, Bimo. 1989. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andy Yogyakarta

www.e-psikologi.com

www.google.co.id